Nulis itu penting ya?

Nulis memangnya nggak penting ya? Analoginya begini, menulis termasuk cara mudah untuk menghafal. Itu sebabnya waktu dosen menjelaskan, kamu menulis bagian yang dianggap penting walaupun sebenernya materinya sudah diberikan dan dijelaskan. Sesimple itu.

Lalu keadaan mengarah pada dunia digital sehingga menulis tergerus menjadi sebuah ketikan. Dan parahnya lagi, kalimat yang didapat bukan lagi sebuah tulisan yang original. Itu sebabnya kita sulit mengingat walaupun sudah menulis (mengetik). Terlihat ya bedanya?

Tidak masalah itu tulisan adalah milik orang lain, selama bisa dipertanggung jawabkan dan bisa dipahami dengan cara mengambil sebuah kesimpulan tentang hal tersebut. Begitu lebih baik. Ada proses dimana kita membaca sehingga mendapatkan sebuah kesimpulan dan menjadi lebih mudah untuk diingat.

Menulis juga bisa membuat kita kembali mengingat seperti misalnya buku diari, siapa yang saat ini masih punya buku diari? Sepertinya hanya segelintir. Saat ini Medsos menjadi sebuah diari digital dengan kedok ‘dokumentasi pribadi’ yang dibuat secara publik sehingga menjadi bumerang tersendiri bagi sipengguna. Jumlah like dan komen menjadi penentu baik ato buruk. Tulisan-gambar bagus menjadi sebuah tuntutan agar tidak FOMO.

Menulis dibuku :

  1. Hanya kita yang tau isinya, kecuali catatan tersebut diberikan kepada orang lain
  2. Jika suatu saat kembali membuka buku tersebut, kita akan mempunyai rasa penasaran itu kembali atau bahkan memiliki pendapat yang berbeda sama sekali
  3. Tulisan sebelumnya memicu tulisan selanjutnya

Menulis di medos :

  1. So publik, bahkan jika disetting privat pun. Kecuali akun kita tidak punya teman ato followers (buat apa dibuat kalo gitu?)
  2. Jika suatu saat dilihat kembali. Rasanya ingin memperbaiki tulisan/gambar tersebut agar komentar tidak seharusnya begitu dan jumlah like juga tidak begitu.
  3. Postingan sebelumnya memicu postingan selanjutnya

Perbedaan antara menulis dibuku dengan menulis di medses sebenernya tidak terlalu signifikan tapi mungkin lebih kepada psikologisnya. Tidak bisa dipungkiri, jumlah like sangat berpengaruh di Instagram misalnya. Selanjutnya kita dituntut untuk uptodate. Penulis fikir itu benar-benar membuat lelah. Don’t you think? Apalagi untuk kita si introvert. Rasanya seperti remahan rengginang.

Namun hal baik dari menulis/menggambar di medos adalah menunjukkan bakat yang kita miliki. For me, medsos is a big No untuk curcol whatever it call. Lebih baik menggunakan blog seperti saat ini, rasanya lebih puas. Everyone can see, no borders. Sooo public and free, but every words are consequences to handle. Tapi kalo untuk business, let me do. Dan kalo ditanya punya medsos? Jelas punya, hanya sekedar pelepas rasa penasaran si penanya. Sesimple itu

Waktu itu masih friendster, sebelum facebook. Kemudian yang lainnya lalu yang lainnya lagi. Friendster pun tidak bertahan lama walaupun sudah pindah investor karna masalah keamanan yang tidak sebaik facebook. Walaupun demikian, saat friendster itu penulis sudah mulai membuat sebuah blog gratisan karna waktu itu masih kuliah. Agak sedikit berbeda memang, taste different. Ada banyak pengaturan didalam dashboard begini begitu sebelum post, lebih old but bold. Menuntut kita untuk belajar hal yang baru, tanpa perlu merasa FOMO. Dari blog gratisan hingga berlangganan, masing-masing memiliki tantangan tersendiri.

Do what you know to be right, itu motto penulis saat pertama kali membuat blog karna waktu itu mungkin masih muda ya so excited lah. But now, ngajar santuy is enough. Tidak ada yang perlu di FOMO kan. Do what I want, what I can, just don’t hurt my self. Sesimple itu

Apakah ada yang membaca tulisan ini hingga akhir?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RSS
Follow by Email
Twitter
Visit Us
Follow Me